Perkuat Inklusivitas, DNIKS-Komdigi Cetak Pandu Literasi Digital Disabilitas Berbasis Pancasila

Eko Cahyono Berita Nasional 19 Juni 2026 5 kali Perkuat Inklusivitas, DNIKS-Komdigi Cetak Pandu Literasi Digital Disabilitas Berbasis Pancasila Program ini membekali peserta dengan kecakapan digital yang berakar pada nilai-nilai Pancasila, toleransi, serta etika bermedia sosia/Foto: DNIKS

JAKARTA-–Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar pelatihan intensif bagi komunitas penyandang disabilitas. Adapun sinergi bersama Komdigi ini menjadi langkah nyata dalam membuka kesempatan berkarya bagi penyandang disabilitas. "Kita berkomitmen untuk menggelar edukasi ini secara berkelanjutan guna memastikan seluruh warga negara menikmati pemerataan hak digital tanpa diskriminasi," kata Ketua Bidang Peningkatan Skill dan Pengembangan Profesi DNIKS, Loretta Kartikasari saat membuka Pelatikan TIK dan Pandu Literasi Digital di Kantor DNIKS, Kamis (18/6/2026). 

Lebih jauh Loretta-sapaan akrabnya memberikan apresiasi atas sinergi yang terbangun dalam kegiatan ini. "Sebagai fasilitator yang bermitra dengan berbagai organisasi sosial dan disabilitas, jadi kami menyambut baik kolaborasi ini untuk memberdayakan dan meningkatkan kapasitas kawan-kawan difabel di tengah pesatnya arus digitalisasi,” jelas Loretta.

Menurut Loretta, pelatihan yang ramah disabilitas ini sejalan dengan komitmen DNIKS untuk memetakan dan menyerap kebutuhan riil komunitas di akar rumput sehingga transformasi digital nasional tidak menyisakan siapa pun. "Program ini membekali peserta dengan kecakapan digital yang berakar pada nilai-nilai Pancasila, toleransi, serta etika bermedia sosial. Melalui program Pandu Literasi Digital, perwakilan penyandang disabilitas dilatih menjadi fasilitator," ujarnya lagi.

Sementara itu, Pemateri Pandu Literasi Digital Kementerian Komdigi, Gufroni Sakaril menjelaskan bahwa mereka bertugas menularkan kecakapan siber yang bijak ke ekosistem komunitasnya masing-masing. "Langkah ini diambil sebagai respons konkret terhadap maraknya penyebaran informasi palsu (hoaks), cyberbullying, dan penipuan daring yang kerap menyasar kelompok rentan," terangnya yang juga menjabat Ketua DNIKS.

Lebih lanjut Gufroni menjelaskan bahwa integrasi Pancasila dan Etika Digital yang menjadi materi pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan teknis pengoperasian gawai. Karena itu Tim literasi digital menekankan pentingnya empat pilar utama dengan fokus berat pada Etika Digital (Netiket) dan Budaya Digital. Netiket Cermin Budaya Bangsa, dimana peserta diajarkan menginternalisasi Pancasila sebagai panduan moral di internet. Netiket siber ditekankan sebagai bentuk perwujudan toleransi, menghargai keberagaman budaya, serta menjaga kesantunan bahasa dalam berinteraksi daring.

Disiplin Informasi dan Privasi, dimana Pandu digital dibekali kemampuan memilah informasi untuk memutus rantai penipuan serta menjaga batasan privasi diri maupun orang lain di ruang digital. Metode Pembelajaran yang Inklusif dan AksesibelPendampingan penuh menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) bagi peserta tuli. Penyampaian materi berbasis visual yang interaktif serta metode storytelling agar mudah dipahami. Praktik langsung optimalisasi mesin pencari (search engine) dan pengenalan teknologi kecerdasan artifisial (AI) guna mendukung kemandirian ekonomi.   

Menurutnya, pelatihan yang ramah disabilitas ini sejalan dengan komitmen DNIKS untuk memetakan dan menyerap kebutuhan riil komunitas di akar rumput sehingga transformasi digital nasional tidak menyisakan siapa pun. Pemerintah berharap lewat lahirnya Pandu Literasi Digital dari kalangan disabilitas ini, ruang digital Indonesia dapat berkembang menjadi tempat yang lebih aman, ramah, toleran, dan produktif bagi seluruh warga negara.***


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin