Dari Rumput Teknologi Global ke Mesin Pemulihan Hijau Pascabencana
Indonesia menghadapi tantangan struktural yang saling bertautan: bencana hidrometeorologi yang kian sering, degradasi lahan, kemiskinan pascabencana, serta ketergantungan pada pola bantuan yang bersifat habis pakai. Dalam konteks inilah, Juncao Technology—sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar—menawarkan jalan keluar yang konkret, cepat, dan berkelanjutan.
Juncao bukan sekadar jenis rumput. Ia adalah teknologi pembangunan yang dikembangkan melalui prinsip mengganti ketergantungan pada kayu dengan biomassa rumput berproduktivitas tinggi. Teknologi ini telah diterapkan di lebih dari 100 negara, menciptakan ratusan ribu lapangan kerja hijau, serta berkontribusi langsung pada pengentasan kemiskinan, rehabilitasi lingkungan, dan ketahanan pangan. Yang menarik, Juncao bukan teknologi elitis. Ia bersifat low-cost, adaptable, dan cepat menghasilkan dampak, menjadikannya sangat relevan bagi negara-negara berkembang yang menghadapi keterbatasan fiskal dan tantangan ekologis serius.
Apa itu Juncao Technology?
Juncao merupakan sistem terpadu yang memanfaatkan rumput cepat tumbuh (seperti Pennisetum purpureum, Arundo donax, dan Neyraudia reynaudiana) sebagai bahan baku multifungsi: media tanam jamur (protein tinggi), pakan ternak, biomassa energi, dan pengendali erosi dan stabilisasi tanah.
Keunggulannya terletak pada biaya rendah, adaptabilitas tinggi, dan hasil cepat. Dalam setahun, Juncao dapat dipanen 4–6 kali, bahkan di lahan marginal. Sistem perakarannya kuat, mampu menahan tanah pascabencana, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan retensi air.
Relevansi Strategis bagi Indonesia
Indonesia adalah negara rawan banjir, longsor, dan degradasi lahan. Setiap bencana menyisakan persoalan lanjutan: kayu limbah berserakan, lahan rusak, pengangguran mendadak, dan konflik sosial laten akibat hilangnya sumber penghidupan.
Dalam konteks ini, integrasi Juncao dengan Biochar menjadi terobosan bernas.
Biochar—arang hayati hasil pengolahan limbah kayu—berfungsi memperbaiki kesuburan tanah, mengikat karbon secara jangka panjang, serta meningkatkan produktivitas lahan. Ketika biochar dikombinasikan dengan Juncao sebagai tanaman pionir, tercipta sebuah Biochar–Juncao Grass Complex: sistem pemulihan hijau yang bersifat ekologis, ekonomis, dan sosial sekaligus.
Dari Bantuan ke Aset Produktif
Pada 21 Januari 2026, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dan Asosiasi Biochar Internasional Indonesia (ABII) menandatangani MoU untuk mendorong penerapan Biochar–Juncao Grass Complex sebagai bagian dari Program Pemulihan Hijau Pascabencana Banjir di Sumatera.
Inisiatif ini menandai pergeseran paradigma penting: dari bantuan darurat yang habis dikonsumsi, menuju pembangunan aset produktif milik rakyat.
Program ini dirancang untuk: Mengamankan wilayah pascabencana dari degradasi berulang dan erosi, Menyerap tenaga kerja korban bencana secara cepat, bermartabat, padat karya, Membangun cadangan biomassa nasional untuk energi, pangan, dan karbon, Mengurangi konflik sosial dengan menghadirkan sumber ekonomi baru berbasis komunitas.
Dimensi Sosial, Ekonomi, dan Geopolitik
Pengalaman di Papua Nugini, Fiji, dan negara berkembang lain menunjukkan bahwa Juncao mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga, menurunkan malnutrisi, dan memperkuat ekonomi lokal. Bagi Indonesia, manfaat ini selaras dengan agenda nasional: ketahanan pangan, rehabilitasi hutan dan lahan, serta transisi ekonomi hijau.
Lebih jauh, pengembangan Juncao juga membuka ruang kerja sama teknologi Selatan–Selatan, termasuk dengan institusi riset dan pertanian China, tanpa ketergantungan struktural. Fokusnya adalah transfer pengetahuan, pelatihan petani, dan kemandirian produksi nasional. Indonesia tidak sekadar menjadi lokasi proyek, melainkan aktor utama yang menentukan desain, tujuan, dan kepemilikan manfaat.
Dalam konteks global, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang proaktif, berdaulat, dan solutif dalam menghadapi krisis iklim.
Menuju Pemulihan Hijau yang Berdaulat
Juncao bukan solusi tunggal, tetapi ia adalah alat strategis yang praktis, teruji, dan siap diterapkan. Ketika digabungkan dengan biochar dari limbah bencana, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah tragedi menjadi fondasi pemulihan jangka panjang—memulihkan tanah, memulihkan martabat, dan memulihkan masa depan.
Dalam era krisis iklim dan ketidakpastian global, pendekatan Biochar–Juncao Grass Complex menunjukkan bahwa pembangunan hijau tidak harus mahal, rumit, atau elitis. Ia bisa tumbuh dari rumput—asal dikelola dengan visi, disiplin, dan keberpihakan pada rakyat.
Penutup: Dari Rumput ke Strategi Negara
Juncao mungkin terlihat sederhana—hanya rumput. Namun dalam kerangka geopolitik pembangunan, ia menjadi strategis. Ketika dipadukan dengan biochar, kelembagaan komunitas, dan visi negara, Juncao menjadi pintu masuk bagi pendekatan baru: pemulihan pascabencana yang membangun ketahanan jangka panjang.
Bagi Indonesia, inilah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kerja sama global—termasuk dengan China melalui Belt and Road Innitiative dan South–South Cooperation—dapat diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat. Bukan dengan retorika, tetapi dengan hasil nyata di tanah, di desa, dan di kehidupan masyarakat terdampak.
Niscaya jika dikelola dengan disiplin, transparansi, dan kepemimpinan politik yang kuat di tangan Presiden Prabowo Subianto, Biochar–Juncao Grass Complex dapat menjadi warisan kebijakan: sebuah contoh bagaimana Indonesia mengubah krisis menjadi kekuatan, dan bagaimana Global South membangun masa depan dengan caranya sendiri.
